Advetorial2020-04-03 04:55:18

Kota Kita, Kota Cerdas

( words)

Kota Kita, Kota Cerdas

Tantangan COVID-19 untuk Kota Cerdas

Dr. Eng. Fritz Akhmad Nuzir, ST, MA, IAI

Fellow Researcher di IGES (Institute for Global Environmental Strategies) dan dosen Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung

 

Pandemi virus COVID-19 (Corona) masih terus menjadi perhatian warga dunia. Di Indonesia, pandemi ini muncul cukup belakangan jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga lain di Asia Tenggara namun saat ini dampaknya sangat meresahkan masyarakat. Sampai tulisan ini dibuat (29 Maret 2020) berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, di bumi pertiwi ini sudah tercatat 1.285 positif terinfeksi virus tersebut di mana 64 orang dapat disembuhkan, namun 114 jiwa tidak terselamatkan. Wajar saja kemudian jika perhatian semua komponen pemerintah dan elemen masyarakat tercurahkan untuk upaya-upaya pencegahan sebaran virus tersebut, pengawasan terhadap orang-orang yang memiliki kemungkinan terpapar virus tersebut dan juga penyembuhan pasien-pasien baik yang terduga maupun yang sudah positif.

Upaya-upaya penanggulangan tersebut dilakukan utamanya oleh para dokter dan tenaga medis di garda terdepan. Namun dikarenakan tingginya tingkat penyebaran dan fatalnya akibat yang ditimbulkan akhirnya semua pihak pun mau tidak mau harus bahu membahu berkontribusi dalam setiap upaya untuk melindungi diri, keluarga, dan masyarakat sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing. Upaya yang paling sederhana namun paling penting dalam mengendalikan penyebaran virus ini adalah dengan menahan diri untuk tidak meninggalkan tempat tinggal masing-masing.

Pemerintah pusat dan daerah telah melakukan himbauan kepada masyarakat agar tetap tinggal di rumah masing-masing dengan tujuan untuk menekan kontak fisik yang terjadi terutama di tempat-tempat umum. Di media sosial, gerakan ini viral dengan hashtag #dirumahaja. Walaupun awalnya sebagian masyarakat dengan senang hati melaksanakannya dan malah mungkin menganggapnya sebagai libur bersama, namun ternyata bagi sebagian besar yang lain, himbauan ini terasa sulit untuk dilakukan sehingga muncul kemudian kebijakan-kebijakan yang mengikutinya. Sebagai contohdi sektor pendidikan dimana mustahil jika para pelajar dan mahasiswa harus terus menerus diliburkan. Sehingga kemudian muncul kebijakan untuk mengoptimalkan e-learning atau sistem pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan media daring dan teknologi informasi.

Tidak hanya sekolah dan perguruan tinggi yang “terpaksa” menggunakan teknologi informasi dengan sistem daring, institusi pemerintahan, organisasi, perusahaan, dan lembaga formal lainnya pun mengambil kebijakan yang sama. Sebagai bagian dari gerakan Work From Home (WFH), saat ini banyak diselenggarakan pertemuan-pertemuan daring baik untuk keperluan kerja maupun untuk diskusi dan pertukaran informasi dan pengetahuan. Oleh karena itu, jika sebelum pandemi ini terjadi tingkat penggunaan internet di Indonesia masih didominasi untuk keperluan bersosial media (Statista, 2019), maka kemungkinan saat ini penggunaan untuk keperluan akademik dan profesi menjadi semakin meningkat dan bukan tidak mungkin akan semakin meningkat di masa depan. Bahkan ketika mudah-mudahan pandemi ini telah berakhir.

Seperti blessing in disguise, meningkatnya penggunaan teknologi informasi untuk produktivitas ini dapat dimaknai sebagai hikmah di balik adanya musibah ini. Teknologi informasi akan lebih berkontribusi dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Dalam konteks perencanaan kota, ketika warga dan pemangku kebijakan kota mulai mengandalkan teknologi sebagai solusi utama dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari maka ini merupakan ciri utama suatu Kota Cerdas (Smart City). Teknologi tidak hanya sekedar digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersier tapi menjadi tumpuan gerak dalamurat nadi perkotaan.

Konsep Smart City atau Kota Cerdas mulai diterapkan sejak awal abad ke-21 dengan dipicu oleh kehadiran teknologi internet yang mulai digunakan dalam banyak aspek kehidupan. Internet dengan fitur World Wide Web-nya pada awalnya hanya digunakan oleh kalangan pemerintah dan akademisi, namun kemudian berkembang dengan sangat pesat menjadi media komunikasi dan transaksi massal (Coe et al., 2001). Disusul kemudian dengan teknologi telepon genggam yang semakin praktis dan membuka batasan jarak dan waktu dalam komunikasi.Sekarang orang juga mengenal istilah “Internet of Things (IoT)” yang berarti teknologi yang memungkinkan benda-benda di sekitar kita terhubung dengan jaringan internet.

Kota akan menjadi cerdas apabila investasi pada sumber daya manusia dan modal sosial serta infrastruktur sistem komunikasi tradisional dan modern dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kehidupan yang berkualitas dengan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana dan melalui tata pemerintahan yang partisipatif (Caragliu et al., 2011).

Pendapat yang lain juga menyatakan bahwa yang dimaksud dengsn kota cerdas adalah area geografis tertentu dimana teknologi canggih seperti ICT, logistik, produksi energi, dan lain-lain, saling melengkapi dalam rangka untuk menciptakan manfaat bagi penduduk kota dalam hal kesejahteraan, partisipasi, kualitas lingkungan hidup, pembangunan yang cerdas yang dikelola oleh tata pemerintahan yang tertib dengan kebijakan-kebijakan yang baik (Dameri, 2013).

Dari dua definisi di atas, kita dapat memahami bahwa esensi sesungguhnya dari penerapan konsep Kota Cerdas bukanlah pada pengadaan dan penggunaan infrastruktur teknologi sebagai kelengkapan sarana dan prasarana perkotaan semata melainkan pada pemberdayaan teknologi tersebut dalam segala aspek dan sektor pembangunan serta inovasi-inovasi yang dihadirkan secara berkelanjutan. Sebagai contoh, saat ini tentunya bukan suatu hal yang aneh apabila ruang-ruang terbuka dan non terbuka baik publik maupun semi publik telah dilengkapi dengan fasilitas internet melalui koneksi Wi-Fi. Namun pertanyaannya apakah dari ketersediaan koneksi internet tersebut dapat muncul inovasi-inovasi dari warga atau paling tidak dapat digunakan warga untuk memperbaiki kualitas hidupnya akibat permasalahan yang tengah dihadapi.

Saat ini, permasalahan yang dihadapi masyarakat tentunya adalah penyebaran virus COVID-19 yang sulit dikendalikan terutama di perkotaan karena tingginyapotensi kerumunan orang berkumpul dalam jumlah besar di wilayah ini. Himbauan untuk tinggal di rumah saja melalui gerakan #dirumahaja dan Work From Home ternyata tidak mudah dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, apalagi dalam jangka waktu yang cukup lama. Minimal 14 hari sesuai dengan masa inkubasi virus tersebut sehingga dapat menghentikan laju penularannya. Masalahnya untuk kalangan masyarakat dengan penghasilan yang pas-pasan di mana tiap harinya mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hari itu juga, tidak keluar rumah untuk bekerja menjadi suatu hal yang mustahil. Bahkan ketika mereka bekerja pun saat ini penghasilan mereka pun jauh berkurang karena imbas dari libur atau terhentinyaberbagai tempat dan kegiatan masyarakat umum. Jelaslah mereka inilah yang paling terkena dampak dari pandemi yang tengah melanda saat ini.

Nah, jika tadi berbagai institusi pendidikan, pemerintahan, dan pelaku usaha telah mulai bisa dan terbiasa untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi khususnya teknologi informasi untuk tetap bisa berkegiatan dan produktif selama masa mengisolasi diri ini, tantangan terbesarnya adalah bagaimana teknologi juga bisa berkontribusi untuk membantu masyarakat kelas menengah ke bawah tadi khususnya yang tinggal di wilayah perkotaan. Di sinilah ujian sesungguhnya bagi konsep Kota Cerdas yang sejak awal kemunculannya di Indonesia pada lebih kurangsatu dasawarsa terakhir ini masih lebih terasa sebagai jargon belaka. Potensinya ada dan kasat mata karena Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat penggunaan internet tertinggi di dunia. Hanya saja memang faktanya baru sekitar 30% dari keseluruhan jangkauan layanan daring ini yang benar-benar bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menjawab tantangan ini, tidak bisa dielakkan bahwa pemerintah kota dan daerah memiliki “pekerjaan rumah” yang terbesar. Pemerintah kota-kota yang selama ini menggunakan “jargon” Kota Cerdas dalam perencanaan dan pengelolaan pembangunan kotanya harus mampu membuktikan bahwa infrastruktur kotanya benar-benar “cerdas” sesuai dengan definisi di atas. Ini bisa dimulai dari banyak hal misalnya dari keterbukaan, kecepatan, dan kelayakan dalam penyampaian informasi khususnya yang berkaitan dengan permasalahan pandemi saat ini. Masih banyak masyarakat yang tidak tahu mengenai tingkat bahaya dari penyebaran virus ini dan alasan dibalik himbauan untuk tetap tinggal di rumah. Informasi yang didapat kebanyakan hanya sepotong-sepotong melalui arus media yang sebagian besar malah tercampur dengan hoax dan sebaran isu yang tidak dapat dipercaya. Seyogyanya pemerintah kota yang benar-benar cerdas memiliki prioritas dan perhatian dalam mengelola informasi untuk warganya sehingga kebijakan dan himbauan yang dikeluarkan akan mendapat respon yang baik dari warganya dan situasi akan tetap kondusif tanpa kepanikan yang berlebih. Pusat informasi atau media center formal yang misalnya berupa website resmi pemerintah harusnya memegang peranan penting utamanya dalam masa krisis seperti ini sesuai dengan perkembangan IoT (Internet of Things) saat ini.

Hal yang lain yang seharusnya menjadi perhatian dari penerapan Kota Cerdas adalah pengelolaan dan pemanfaatan database kependudukan yang baik dan terpadu. Kemajuan teknologi dan inovasinya seharusnya diprioritaskan untuk mengoptimalkan komponen ini. Sehingga kebijakan apapun yang akan dilakukan memiliki dasar yang terukur dan obyektif. Semisal dalam membantu masyarakat kalangan menengah ke bawah dalam menghadapi masa-masa sulit seperti ini, pemerintah akan menjalankan kebijakan untuk memberikan bantuan langsung untuk kebutuhan hidup sehari-hari maka pemerintah kota yang benar-benar cerdas seharusnya tinggal mengacu sepenuhnya pada database yang ada. Database ini tentunya harus terbuka, terpadu, dan terbarukan secara berkala. Terbuka artinya informasi terbuka untuk semua pihakdan dapat diakses secara daring, tentunya terkecuali yang bersifat pribadi. Terpadu artinya database ini melibatkan informasi dari berbagai lembaga yang saling melengkapi dan dapat dikoreksi serta digunakan secara bersama-sama. Terbarukan secara berkala berarti bahwa data dan informasi yang ada haruslah yang terbaru sehingga tepat sasaran.

Perkembangan IoT memang telah dapat mulai digunakan di beberapa sektor khususnya dunia pendidikan formal walaupun memang belum berjalan dengan mulus dan terukur. Namun momen pandemi ini seharusnya dapat dijadikan momentum dan alasan yang kuat bagi pemegang kebijakan di dunia pendidikan untuk menggodok dan bersiap mengimplementasikan secara penuh infrastruktur pendidikan berbasis teknologi di masa mendatang. Dalam konteks penanggulangan bencana ini adalah contoh pendekatan adaptasi yang berfokus memberikan respon terhadap dampak yang terjadi. Harapannya sektor pendidikan bisa menjadi sektor terdepan dalam mewujudkan konsep Kota Cerdas yang sesungguhnya.Pasca pandemi ini, wacana Kota Cerdas seharusnya tidak melulu diperdebatkan pada perwujudan sarana dan prasaran fisik semata tapi lebih kepada bentukan inovasi dan solusi yang dihasilkan dalam menghadapi permasalahan-permasalahan kota saat ini.

Contoh yang menarik datang dari Banyuwangi di mana penggunaan teknologi digital telah melahirkan inovasi di sektor kesehatan. Melalui pengembangan program “Sistem Informasi Jaringan Elektronik Mendukung Pelayanan Optimal Kesehatan Banyuwangi (SI JEMPOL WANGI), pemerintah setempat mengedepankan pendekatan peningkatan kesehatan masyarakat dan pencegahan yang berbasis geospasial melalui pengenalan berbagai aplikasi. Di Banjarmasin, pemerintah kota fokus mengembangkan Co-working Space dengan kelengkapan sarana prasana dan koneksi internetnya di salah satu fasilitas wisata yang populer untuk mewadahi kegiatan edukasi dan bisnis startup yang dipelopori oleh kaum millennial. Ini adalah upaya inovatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Sekedar informasi dari Sustainable Development Goals (SDGs) Report 2019, saat ini ada sekitar 2 milyar penduduk kota yang belum mendapatkan pelayanan pengumpulan sampah yang layak.Rata-rata tiap satu dari empat orang penduduk kota hidup dalam kondisi lingkungan yang kumuh.Baru sekitar separuh dari jumlah penduduk kota di dunia yang dapat merasakan sistem transportasi publik yang nyaman.Dan dari 10 orang penduduk kota, 9 orang di antaranya menghirup udara yang telah tercemar. Mampukah konsep Kota Cerdas menjadi jawaban terhadap permasalahan-permasalahan tersebut? Pandemi COVID-19 saat inimenjadi contoh kasus dantantangan yang besar dengan potensi dan peluangkeberhasilan yang juga sama besarnya. Mungkin ini saat yang tepat untukmenggunakan “the power of kepepet”.

 

Leave a Reply

Post Comment ⇾

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe now to get notified about exclusive offers
from The .... every week!