WARTALENSAINDONESIA, Way Kanan — Camat Blambangan Umpu menekankan pentingnya langkah pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di tengah kondisi musim kemarau yang meningkatkan risiko munculnya titik api.
Penekanan tersebut disampaikan saat Camat Blambangan Umpu turun langsung ke Kampung Umpu Bhakti untuk menyosialisasikan kesiapsiagaan karhutla kepada masyarakat, Kamis (27/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dan seluruh unsur terkait didorong untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini. Penanganan karhutla, menurut Camat, tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah meluas. Persiapan personel, peralatan, jalur akses, hingga ketersediaan sumber air harus dipastikan sebelum kebakaran terjadi.
“Jangan saat api muncul kita baru bingung mencari air,” menjadi pesan utama dalam sosialisasi tersebut.
Camat meminta agar titik-titik rawan kebakaran dan lokasi yang mudah terbakar segera dipetakan. Selain itu, sumber air seperti embung, kanal, sungai, dan tempat penampungan air perlu diidentifikasi agar dapat dimanfaatkan secara cepat apabila terjadi kebakaran.
Jalur masuk menuju lokasi rawan, jalur darurat, serta titik kumpul juga perlu dipastikan keberadaannya. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat mobilisasi petugas dan warga ketika dibutuhkan.
Kesiapsiagaan juga harus didukung dengan peralatan dan komunikasi yang memadai. Perangkat komunikasi perlu dipastikan berfungsi dan terhubung antarpihak, sementara satuan tugas serta posko siaga di tingkat kampung perlu dipersiapkan untuk mendukung koordinasi penanganan.
Dalam sistem tersebut, kepala kampung diharapkan menjadi pusat informasi dan koordinasi di wilayah masing-masing, sehingga laporan mengenai asap atau titik api dapat segera diteruskan kepada pihak terkait.
“Supaya kalau ada asap atau api kecil, langsung diketahui dan ditindaklanjuti, tidak sempat berkembang menjadi bencana besar,” tegas Camat.
Musim Kemarau, Kewaspadaan Harus Ditingkatkan
Kondisi tanah dan vegetasi yang semakin kering selama musim kemarau dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran. Karena itu, kewaspadaan perlu dijaga dan tidak boleh menurun, terutama di kawasan yang memiliki kerawanan terhadap karhutla.
Camat juga mendorong seluruh unsur, mulai dari aparatur pemerintahan, lembaga terkait, tokoh masyarakat, hingga warga, untuk membangun pola kerja sama yang terkoordinasi.
Prinsipnya, setiap laporan harus ditindaklanjuti dengan cepat, penanganan dilakukan sesuai kondisi di lapangan, dan seluruh pihak saling membantu agar kebakaran tidak meluas.
Melalui sosialisasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pencegahan merupakan langkah utama dalam mengurangi risiko karhutla. Kesiapan sejak dini juga menjadi bagian penting dalam melindungi lingkungan, keselamatan warga, dan wilayah permukiman dari ancaman kebakaran.
“Cegah sebelum membesar. Siap sebelum api datang. Siaga melindungi masyarakat.”














