WARTALENSAINDONESIA, BANDARLAMPUNG – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmennya menghidupkan kembali desa-desa budaya sebagai upaya melestarikan warisan adat sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan saat meninjau Desa Wisata Budaya Marga Teluk yang berpusat di Rumah Adat Lampung Lamban Dalom, Olok Gading, Bandar Lampung, Kamis (25/6/2026). Kedatangan Gubernur Mirza disambut tokoh adat dan masyarakat melalui prosesi adat sebelum menuju lokasi kegiatan.
Dalam sambutannya, Mirza menekankan bahwa kemajuan Provinsi Lampung tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai budaya yang telah menjadi fondasi kehidupan masyarakat selama ratusan tahun.
Ia menyebut lima falsafah hidup masyarakat Lampung, yakni Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan, dan Juluk Adok, sebagai nilai yang mampu menjaga keharmonisan masyarakat di tengah keberagaman.
“Melalui lima falsafah ini, masyarakat Lampung selama ratusan tahun dapat hidup berdampingan, damai, dan berkemajuan bersama masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Mirza.
Menurutnya, pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi tidak boleh mengikis identitas budaya daerah. Pembangunan harus tetap berpijak pada nilai-nilai adat yang menjadi pembentuk karakter masyarakat.
“Kita ingin Lampung maju, tetapi tetap memiliki karakter. Kita ingin masyarakat makmur, tetapi tetap menjunjung tinggi adat dan budaya yang menjadi jati diri daerah,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Mirza juga menyoroti keberadaan Rumah Adat Lamban Dalom yang diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1638. Bangunan bersejarah itu dinilai bukan hanya sebagai simbol kebudayaan Lampung, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan nilai-nilai leluhur.
Pemerintah Provinsi Lampung, lanjut Mirza, telah mengidentifikasi 16 desa budaya yang akan direvitalisasi sebagai bagian dari program pelestarian budaya daerah.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada pelestarian bangunan bersejarah, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi, kesenian, aktivitas sosial, hingga penguatan ekonomi masyarakat berbasis budaya.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Kampung Marga Teluk di Olok Gading yang pada masa lampau dikenal sebagai pusat perdagangan sebelum letusan Gunung Krakatau tahun 1883.
“Ke depan, kawasan seperti ini akan kita hidupkan kembali agar masyarakat Indonesia dapat melihat seperti apa Lampung yang sesungguhnya,” ujarnya.
Selain menjaga warisan budaya, revitalisasi desa budaya juga diarahkan untuk memperkuat sektor pariwisata. Mirza menyebut Lampung menerima sekitar 27 juta kunjungan wisatawan nusantara sepanjang tahun lalu. Namun, rata-rata lama tinggal wisatawan masih berkisar satu hingga tiga hari sehingga perlu ditingkatkan melalui pengembangan destinasi baru yang lebih menarik.
“Kami berharap desa-desa budaya yang dihidupkan kembali ini dapat menjadi destinasi wisata baru yang membuat wisatawan lebih lama tinggal di Bandar Lampung maupun Provinsi Lampung, sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan desa wisata budaya nantinya akan diintegrasikan dengan berbagai program pembangunan daerah, termasuk pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.














